WELCOME

Karena Bunga Kecil

Akhir-akhir ini komunikasiku dengan “bunga kecil” memang agak buruk. Saya tahu kalau dia memang terkadang temperamen. Tapi pada dasarnya dia baik. Entah kenapa setiap emosinya naik, saya selalu merasa tidak enakan, meskipun setelah itu tutur kata dan sikapnya menjadi lembut kembali. Saya selalu merasa salah, bahkan saat memikirkan ulang, rasa salah itu tetap menjadi rasa bersalah yang memang timbul dari pribadi saya karena memang semuanya berakar dari tindakan yang saya lakukan. Beberapa kali saya mencoba untuk menjaga jarak dari si “bunga kecil”, namun tindakan pertama, kedua dan ketiga justru membuat saya semakin resah. Saya semakin tidak tahu apa mau saya. Di awal saya berusaha menelaah bagaimana posisi dia di hidupku. Saat semua sudah diperjelas, justru kini saya semakin berat melakukan tindakan apapun yang berhubungan dengan dirinya. Memang hal yang paling saya takutkan adalah jika dia punya perasaan atau maksud lain yang tidak bisa dia kontrol (katanya perempuan seperti itu), tapi tidak bisa dipungkiri bahwa saya pun khawatir kalau saya nantinya punya perasaan seperti itu. Betul, saya masih terlalu dini untuk punya rasa itu, maka dari itu saya berharap apa yang ada diantara kami tetap ada seperti dulu. Seperti SAHABAT. Jujur, keterbukaan yang timbul membuat saya merasa nyaman, meskipun saya tahu bahwa tidak semua hal harus terbuka. Tapi dengan adanya dia saya akan selalu merasa beruntung mengenal orang dengan karakter sekuat dia yang begitu bisa dipercaya dan bahkan memberikan saran yang tidak terduga.

dilema yang lain timbul dari seorang gadis bernama Rini (bukan adeknya kak wandi). Rini (nama samaran) membuat saya bingung dengan dirinya. Saya mencoba menerka seperti apa keinginannya. Dia sosok yang baik, perhatian dan cukup cerdas. Saat dia “maju” seperti biasa saya mengucapkan kata-kata yang mengisyaratkan bahwa saya memilih “mundur”. Saat dia belum puas, saya berusaha menerangkan posisi saya saat ini masih belum bisa memberikan apa-apa. Tapi entah kenapa sepertinya dia betul-betul ingin maju. Mungkin ini yang disebut cemburu, saat Hp saya dipegang olehnya, beberapa sms dan nomor yang saya tahu ada di dalamnya tiba-tiba raib. Saat saya konfirmasi dia mengaku melakukannya dan saat itu sedang dalam kondisi yang labil. Mungkin tindakanku yang menjadi agak “dingin” ke dia yang membuat keruh suasana. Jujur, saya tidak marah, pikiran ini masih bisa dikendalikan dan hati ini masih bisa mengerti kondisi dia saat itu. Tapi kalau saya tidak bersikap, akan kah dia tahu dimana letak kesalahannya?

Jujur, saya kerepotan mencari beberapa nomor teman saya, termasuk bunga kecil, dan bunga kecil pun sempat mempertanyakan kenapa nomornya bisa hilang, saya malah khawatir dia berpikiran kalau saya berusaha menghindari dia dengan tidak menghubunginya sama sekali.

(kesalahan: seharusnya saya tidak tanya ke dia nomornya saat sedang chating, mestinya bisa lewat teman )

Ya, ampun. Saya bingung bagaimana harus bersikap kepada mereka. Pernah suatu saat saya ingin konsultasi ke kak Ayyash, namun mungkin belum takdir saya sepertinya harus selesaikan semua ini sendirian. Sampai saat ini saya masih belum pernah berkomunikasi lagi dengan keduanya. Karena selalu terngiang kata-kata salah satu sahabat saya Adityar,”hati-hati, komunikasi bisa membuat baik keadaan atau malah memperburuk keadaan. Komunikasi bukan Cuma masalah kuantitas, tapi kualitas.”

Maka saya masih harus melihat keadaan dan menunggu waktu yang tepat untuk membuat tindakan. Ataukah kalau perlu saya sendiri harus membuat “waktu yang tepat “ itu sendiri.

Tapi kalau boleh berharap, saya berharap salah satu dari mereka (atau keduanya) bisa mulai memulai berkomunikasi (apapun) walau Cuma SMS. Supaya saya bisa tahu dan melihat dan tahu apa yang harus saya lakukan. Setidaknya hal itu lebih mudah ketimbang saya yang harus memulai lagi komunikasi yang selalu membuat saya khawatir dan serba salah akan terjadi kesalahan, misalnya waktu yang saya pilih bukan waktu yang tepat untuk berkomunikasi.
1 hal yang pasti jadi keinginanku saat ini, bahwa saya ingin semuanya cair seperti dulu lagi. Tak ada rasa ragu atau sungkan saat bertemu nantinya. Semua seperti dulu seperti sebelum terjadinya masalah komunikasi ini

Tuhan, hari ini saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, yang kuharap hanya petunjuk-Mu
Terima kasih untuk semua masalahnya, Tuhan...
Semoga ini membuat saya lebih dekat dengan-MU

Diselesaikan oleh Asai tipe 1
Kompleks Wesabbe makassar
rumahnya Ikbal Hasanuddin
11 April 2010 pukul 02.24

1 Response to "Karena Bunga Kecil"

  1. Anonim says:

    bunga siapa?

IKLAN

Cari Blog Ini

Powered by Blogger