WELCOME

SALAH ATAU BENAR-BENAR SALAH

Mungkin sekali lagi dalam cerita ini saya akan menutup-nutupi setting dan nama orang yang terkait. Saya bukannya tidak ingin berbagi tapi ini membuat saya agak sedikit bagaimana-bagaimana. Ah begitulah. Bahkan postingan ini hampir tidak jadi saya lanjutkan karena berbagai pertimbangan. Tapi akhirnya jadi juga.

Ceritanya bermula saat beberapa saat yang lalu saya berada dalam aksi di sebuah instansi pemerintahan. Di situ beberapa rekan mahasiswa sedang menyuarakan isi hati mereka atas peraturan yang sudah disahkan pemerintah, dan sayangnya menurut kami peraturan itu mencederai kehidupan profesi kami, ya pokoknya seperti itulah. Saya sampai tidak tahu harus bagaimana mengutarakannnya, karena jujur ini bukan bidang saya. Saya Cuma bisa di belakang meja dan sulit bekerja di lapangan. Dan saya juga lebih suka segala sesuatu diselesaikan secara damai dan tenang, tanpa perlu hingar bingar dan bumbu-bumbu tidak perlu yang lainnya. Aksi kami pun sebenarnya aksi damai. Namun di pertengahan sempat terjadi sedikit keributan. itu Ada beberapa oknum yang menyulut emosi, sehingga sempat terjadi saling dorong antara rekan-rekan dengan penjaga pagar instansi tersebut. Memang tidak berlangsung lama, tapi saya spontan nyeletuk, “duuh, nda bisa kah pake cara yang lbh tenang, sa nda biasa pake keributan kayak gini.” Dan teman saya yang agak pendiam di kelas langsung balik dan berkomentar, “heeh, kau knapa,hihi?” sambil tersenyum.

Dan memang saat itu kejadian dorong-dorng sempat mengkhawatirkan (bagi saya), spontan saya yang selalu berada di garis belakang langsung menyeruak masuk ke bagian tengah kerumunan, dan menarik beberapa teman sambil bilang, “kasih ke belakang yang perempuannya, rawan sekali mi ini.”

Dan saya mencoba masuk ke barisan depan, dan spontan menarik seorang perempuan. Padahal tangan saya ini sangat sensitif kalau bersentuhan dan saya pun masih agak grogi kalau dengan perempuan.ternyata perempuan yang saya tarik itu adalah si pendiam yang berkomentar tadi. Entah kenapa waktu berjalan begitu lambat sewaktu saya menarik kedua bahunya dengan tangan saya, bahkan saat menarik dia disamping saya, saya malah sempat-sempatnya melihat wajah wanita pendiam itu. Saya melihat dia, yang mungkin mengenali suaraku, menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang berubah. Biasanya saya tahu apa kemauan dari perempuan ini, tapi keadaan yang agak mendesak saat itu tidak bisa membuat saya berpikir selain menarik teman-teman yang berada di baris depan.
Menarik teman-teman Bukan masalah solidaritas angkatan, tapi karena kami adalah angkatan termuda, tentu makin banyak kakak yang akan disalahkan kalau saja ada salah satu dari kami kenapa-kenapa, selain itu kami masih baru untuk hal-hal seperti ini.

Disini mungkin dilema paling besar yang muncul, entah perempuan ini dari mana, yang jelas saya tahu bahwa dia bukan teman seangkatan saya, mungkin kakak tingkat saya atau dari universitas lain. Waktu itu dia berjalan sambil memasang ekspresi ingin meneriakkan sesuatu, hal ini tampak begitu jelas dari raut wajah dan sorot matanya, bahkan orang lain pun akan tahu bahwa daia dalam tingkat emosi tinggi dan ingin melakukan sesuatu. Dalam benak saya dia akan masuk ke kerumunan dan mencoba keluar di baris depan. Saya mencoba menahannya dan sempatlah terjadi percakapan yang alot berikut ini. 

Karena banyak menggunakan dialek kedaerahan maka beberapa di-setting dalam bahasa indonesia

ME: jangan ki masuk, bahaya
SHE: knapa? Mereka mesti dengar apa yang kita (sekalian) mau
ME: iya, tapi kan sudah ada yang lain di depan, tidak mesti ji kita’ (anda)
She: tidak, biar mereka tahu kalau perempuan juga bisa bicara
ME: kita nda pikir kalau kita (anda) nanti kenapa-kenapa?
SHE: yang penting mereka tahu apa mauku.
ME: iya, saya tahu mau ta(anda). Tapi bukannya kalau situ (anda) maju, justru berbahaya.kita itu perempuan loh
SHE: oh,ya...memangnya kenapa kalau saya perempuan?
ME: maaf sebelumnya, tapi astaga, tau tidak. Kami (laki-laki) punya tanggung jawab untuk melindungi kalian (perempuan) dimanapun dan kapanpun. Tidak dalam aksi (kehidupan sehari-hari) pun kami sudah setengah mati menjaga kalian, apalagi dalam situasi yang rawan seperti ini, Kalau sampai satu saja dari kalian kenapa-kenapa, kami yang disalahkan. Kita nda pikirkah?kita nda pikir kalau kita knapa-knapa nantinya justru yang sebenarnya repot malah orang lain? Belum lagi keluarga ta(anda) jadi terbengkalai lagi aktivitasnya Cuma untuk rawat ki’(anda)

Perempuan itu hanya melihat ke saya saat bicara dan membuang pandangan ke arah lain saat saya yang bicara. Tapi dia menatap saya saat saya mengucapkan kalimat terakhir. Dan dalam sekejap dia pergi meninggalkan saya disitu. Entah mencari celah lain untuk menerobos atau kemana. Saya tidak tahu.
Entah saya yang salah atau benar-benar salah. Salah karena menghalangi niat seseorang untuk melakukan sesuatu yang baik yaitu menyuarakan isi hatinya. Benar-benar salah karena tidak sungguh-sungguh menghalanginya. Jujur, waktu itu saya sangat dilematis. Bingung menghadapi orang seperti itu, bingung dalam bertindak. Namun saya berpikir bahwa memang perempuan bisa berbuat banyak, namun dalam batasan tertentu mereka tetap dalam perlindungan laki-laki.

Dan setelah itu suasana agak mereda. Saya sibuk mondar-mandir menanyakan soal kepastian jadi tidaknya pelaksanaan Pleno hari itu kemudian mencari informasi tentang pengumuman nilai imunologi yang sudah terpasang di MEU. Apalagi setelah mendekati waktu shalat jumat, saya dan beberapa teman-teman sibuk memilih tempat utnuk shalat jumat.

Dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kampus. Setelah minta izin. Maka kami mulai mencari pete-pete jurusan kampus. Dan diantara kerumunan banyak orang saya mendengar kata-kata seperti ini, “maaf nah, saya baru mengerti maksudmu,. makasih.” suara itu muncul dari belakang, dan saat saya berbalik saya tidak melihat seseorang yang sepertinya mengajak saya bicara, tapi kalau saya tidak salah, kalau saya tidak salah dengar, itu adalah suara dari perempuan yang ngotot ingin ke barisan depan tadi.


Saya jadi semakin bingung, apa saya salah atau benar-benar salah ?


Asai
Ditulis di
Serambi Rumah BTP
19.26 Wita
7 Mei 2010


1 Response to "SALAH ATAU BENAR-BENAR SALAH"

  1. sii Yiyii says:

    ndak salah ji (mungkin) kak ! buktinya si perempuan itu yang minta maaf
    *si perempuan itu misterius yah (membingungkan juga)* haha

IKLAN

Cari Blog Ini

Powered by Blogger