WELCOME

Bagaimana Rasanya menjadi 19 Tahun ?

Banyak yang bilang pada saat dirimu mencapai 19 tahun maka kamu akan mencapai masa-masa paling labil dalam hidupmu.

 Hari ini  dengan sangat yakin saya berkata:
Maaf, sepertinya itu tidak berlaku bagi kami !

Saya selalu ingat pada kata-kata trainer Latihan Kepemimpinan Manajemen Organisasi 3 tahun yang lalu, bahwa ketika kami berada di wismu maka kami dipaksa lebih cepat menjadi dewasa.

Tapi saat ini saya tidak ingin bilang bahwa hari ini kami lebih dewasa daripada teman sebaya kami. Saya hanya berujar bahwa kami telah mengalami sesuatu lebih cepat dari remaja-remaja lain. Di wismu kami dididik untuk tau segala problematika remaja tanpa harus mengalaminya langsung. Kami dibimbing untuk bisa menghadapi secara tangguh sesuatu yang biasanya mengakibatkan kehancuran mental dan jatuhnya semangat berkarya anak muda saat dilanda suatu masalah.  Ya, kami melewati semuanya.

Banyak yang heran kenapa kami masih mau loyal di wismu. Padahal kami  harusnya beraktualisasi di lembaga yang secara struktural lebih tinggi tingkatnya. Namun kenyataan di mata kami sangat lain. Di lembaga begitu banyak bahan mentah yang harus diolah, sehingga terkadang bahan mentah itu masih terlalu kaku untuk dimatangkan dan terkadang harus dipaksa dimatang-matangkan.

Kami memilih melanjutkan pengembangan diri di organisasi yang sudah membesarkan kami selama  3 tahun , sebuah lembaga yang saya yakin adalah wadah yang mampu menghasilkan SDM terbaik di kota ini. Mereka mengira kami masih tidak mau meng-upgrade kemampuan kami. Padahal sebaliknya, di sini kami mulai mengembangkan diri sebagai bahan baku yang siap matang dan semakin mempertajam bidang-bidang spesialisasi kami.  

Namun ingat, kami tidak bekerja secara wismu, tapi kami bekerja secara Kowismu. Itulah yang membuat mereka salah sangka. Tapi meskipun mereka mungkin tetap menganggap remeh status kami. Saya masih berani mengatakan:

80% adik-adik saya yang berada di tahun kedua wismu masih memiliki kemampuan manajeman, analisis, dan kebijaksanaan yanga lebih baik dari 80% orang-orang yang ada di lembaga anda.

Satu-satunya yang membuat adik-adik saya kalah head to head adalah bahwa mereka 5 tahun lebih muda daripada kalian. Beberapa teman saya saat saya ajak langsung ke beberapa acara adik-adik saya sangat kaget dengan apa yang mereka lihat, mereka (teman saya) tidak menyangka bahwa anak seumuran mereka mampu membuat kegiatan semandiri dan semenakjubkan itu. Kalau sang adik sudah mampu berbuat seperti itu, Lantas pantaskah saya membandingkan teman-teman saya dengan senior saya yang lebih matang lagi?
Satu hal lagi. 19 tahun bukan masa yang singkat, banyak diantara teman saya yang bilang kenapa harus susah memikirkan masa depan,segalanya akan baik-baik saja. Ya, mereka bilang begitu karena mereka ada dalam comfort zone. Mereka belum pernah merasakan bagaimana jauh dari keluarga atau bagaimana harus bersusah payah menghidupi diri sendiri.  Saya merasakan semua itu, mulai dari saat masih SMA harus mengerjakan tugas kelas dengan survey dengan golongan menengah ke bawah, field study, bahkan saat mengalaminya sendiri secara langsung. Semua itu membuat saya berpikir bahwa saya harus berhasil di masa depan.

Saya selalu bilang bahwa: meskipun saya berhasil menjadi “orang” suatu saat nanti, saya akan tetap mendidik anak saya untuk sederhana dan rendah hati. Dan meskipun saya mendidik anak saya untuk sederhana dan rendah hati saya akan tetap memberikan segala fasilitas sebaik yang mampu saya berikan. Untuk itu saya harus berhasil menjadi “orang”
Setidaknya hari ini saya bisa melemparkan jawaban untuk semua pertanyaan yang selalu mereka lontarkan: apa saja yang kamu lakukan di luar sana? Bukankah lembaga ini jauh lebih baik dari tempatmu mengabdikan diri saat ini? Bukankah tempat itu adalah masa lalu? Bukankah seharusnya kamu meng-upgrade kemampuanmu disini?

Jawabannya adalah : saya sedang belajar mengendalikan diri sebagai remaja, saya sedang belajar bagaimana tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, dan saya sedang belajar bagaimana mempersiapkan diri meraih masa depan yang lebih  baik.

ENDING

by Asai:
Bumi tamalanrea Permai
Selesai pada 19 Februari 2011
11.39 WITA
Gara-gara dipaksa nulis kak Fadlan dan kak Ilma :)

Inspirasi tulisan ini adalah:
-Kowismu:
Kakanda  untuk kesempatan sharing dan ilmunya, teman-teman yang bekerja dan belajar bersama, dan adik-adik yang lebih dewasa ketimbang sebagian teman-teman seumuran saya yang lain (Betapa senangnya melihat kaliat berhasil membimbing  generasi yang mampu membimbing generasi yang tangguh)

-Wismu: Akrefitas 2011 dan segenap kru pendukungnya. kalian selalu membuat saya lapar kalau kalian sedang bermasalah.

-Adik saya di kampus:Fikri, Henrikus,Rinoldhy, dan tentu saja Diza. 4 postingan di blog terinspirasi karena keluhan yang pernah kalian lontarkan serta cara berpikir kalian yang lain dari pada yang lain  (mungkin kalian tidak sadar kalau seandainya saya tidak ke sekretariat saya tidak akan kenal kalian lebih jauh dan tidak akan dapat ilmu dari kalian)

-Teman saya : Rais Reskiawan Yusri Yusran Ikbal Hasanuddin dan Taufiq Akbar para calon pemimpin masa depan yang mengobrak-abrik segala kekakuan di tempat mereka berada sekarang

1 Response to "Bagaimana Rasanya menjadi 19 Tahun ?"

  1. aboutilm says:

    Kenapa mesti 19?

IKLAN

Cari Blog Ini

Powered by Blogger